21. Tapi, aku malu, belum bisa membanggakan orangtuaku

Aku malu sama orangtuaku.

Aku nggak peduli sama teman-temanku yang sukses lebih dulu. Aku nggak peduli sama mereka yang glow-up

Aku cuma iri sama mereka yang sudah bisa membanggakan orangtua mereka.

Membelikan mereka rumah yang layak. Menghajikan dan mengumrohkan mereka. Atau, nggak perlu sejauh itu. Setidaknya, membuat mereka tersenyum. Membuat mereka bangga.

Tapi, aku masih begini-begini saja, dan nggak mau begini-begini saja. Aku berusaha, tapi belum menemukan jalan. Aku berjuang, tapi belum ketemu takdirnya.

Aku cuma mau orangtuaku juga bangga padaku, itu saja, nggak lebih.

Apakah kata-kata itu terdengar seperti suara hatimu?

Kalau iya, aku mau tanya sama kamu.

Kalau kamu sudah jadi orangtua nanti, lalu kamu punya seorang anak. Anak yang nggak macam-macam. Nggak merokok. Nggak minum-minum. Nggak terjerumus narkoba. Selalu berusaha jadi orang yang lebih baik — meski kepayahan. Persis sepertimu hari ini.

Anakmu ini sudah beranjak dewasa. Mungkin lima belas tahun. Mungkin tujuh belas tahun. Mungkin dua puluh tahun. Mungkin dua puluh lima tahun.

Aku mau tanya…

Sebagai orangtua, kalau kamu melihat anakmu di usianya yang sepertimu sekarang, sedang struggling mengejar prestasi, struggling mencari pekerjaan, struggling menemukan tempatnya di dunia ini…, tapi, hasilnya belum kelihatan…, akankah kamu membencinya?

Apakah kamu malu memiliki anak seperti itu? Apakah kamu nggak lagi bangga, nggak lagi bersyukur dengan keberadaan anakmu yang sedang struggling ini? Apakah keberadaan anakmu ini hanya membebanimu?

Pasti kamu bilang ‘nggak’.

Kalau kamu bilang ‘nggak’, mengapa kamu berpikir orangtuamu mendadak malu sama kamu, nggak lagi bangga sama kamu, nggak lagi bersyukur sama keberadaanmu, dan hanya menganggapmu beban?

Aku masih punya pertanyaan lain.

Kalau kamu melihat anakmu sudah berjuang setengah mati, tapi nggak kunjung berhasil, pasti kamu juga ikut sedih, kan? Ikut khawatir, kan?

Dan, pada saat-saat seperti itu, apa kamu bakal diam saja?

Pasti ‘nggak’.

Sebagai orangtua, kamu mungkin akan bilang hal-hal comforting, seperti…

Mudah-mudahan nanti kamu bisa sukses, bla bla bla…

Dan, ketika kamu bilang begitu, kamu nggak ada niatan menyerang anakmu sendiri, kan? Ketika kamu bilang begitu, kamu juga nggak menaruh ekspektasi besar untuk anakmu, kan? Hanya sebuah dukungan dan harapan, kan?

Lalu, kenapa ucapan-ucapan orangtuamu kamu anggap sebagai serangan? Sebagai sesuatu yang semakin membebani?

Well, aku paham, sih, posisimu.

Nggak enak dibilang begitu. Cuma menambah beban. Semakin menyadarkan kalau kamu jauh dari harapan orangtuamu.

Kata-kata orangtuamu keluar karena kekhawatiran, dan ketika kita khawatir, lalu berbicara, kita bisa keliru bicara, keliru nada, keliru cara. Dan, ketika kita mendengar kekhawatiran itu, kita mendengarnya seperti sebuah serangan dan beban karena kamu juga dalam posisi khawatir.

Dua-duanya sama-sama orang baik yang khawatir.

Kamu dan orangtuamu hanyalah dua orang baik yang sama-sama khawatir.

Masalahnya, ketika menaruh rasa dalam ucapan kita, dalam pendengaran kita, things can get different from what it seems.

Aku masih ada pertanyaan.

Kadang, orangtua kita, kan, nggak menganggap perjuangan kita. Nah, kalau kamu jadi orangtua, lalu yang kamu lihat dari anakmu hanya di kamarnya tanpa tahu ngapain dan keluar tanpa tahu ke mana, apakah kamu, sebagai orangtua, akan langsung tahu dia sedang berjuang dan bersusah payah?

Kan, enggak.

Mungkin, kamu, sebagai orangtua, pasti bertanya-tanya,

Ini anakku kok gini-gini terus. Di kamar aja. Keluar terus.

Kamu, seperti orangtua lainnya, ingin anakmu berkembang.

Tetapi, anakmu nggak pernah mengomunikasikan itu sama kamu. Nggak pernah bilang perjuangan yang sedang dia lakukan. Nggak pernah bilang apa yang dia lakukan di kamar — bisa aja lagi mengembangkan skill baru.

Mungkin, ceritanya akan berbeda kalau ada komunikasi yang sehat antara kedua bela pihak.

Begitu juga sama orangtuamu yang terdengar seperti mendesakmu.

Mungkin, karena nggak ada komunikasi darimu.

Mungkin, kamu yang belum pernah cerita?

Sekarang, satu pertanyaan terakhir.

Kalau kamu jadi orangtua, apa yang paling kamu harapkan untuk anakmu?

Tentu, kamu pengin anakmu sukses, anakmu kaya, anakmu jadi orang baik dan bermanfaat, anakmu sehat selalu.

Namun, dari semua pilihan yang ada, satu pilihan yang paling kamu harapkan untuk anakmu apa?

Sehat. Tumbuh. Baik-baik. Itu, kan?

So, see?

Kamu nggak harus membanggakan orangtuamu dengan materi — if you could, then good.

Tapi, membanggakan orangtua emang nggak harus lewat materi.

Kamu tumbuh. Kamu sehat. Kamu baik. Kamu nggak aneh-aneh. Itu udah cukup untuk seorang anak bagi orangtuanya.

Tapi, ya, namanya manusia nggak akan pernah puas. Dan, kamu juga nggak perlu — dan nggak bisa — memuaskan satu manusia yang nggak pernah puas.

Tapi…

Kamu tumbuh. Kamu sehat. Kamu baik. Kamu nggak aneh-aneh. Itu udah cukup untuk seorang anak bagi orangtuanya, deep down inside.

Tapi, emang, sih, nggak bisa disangkal. Ada beberapa orangtua yang punya ekspektasi tertentu. Mau anaknya jadi ini-itu. Mau anaknya kaya raya. Mau anaknya segera punya rumah.

Macam-macam.

Tapi, bukan berarti kita harus jadikan standar orangtua sebagai standar hidup kita.

Kita memang harus berbuat baik kepada mereka. Sebaik mungkin. Tapi, kita nggak bisa menjadikan standar salah orangtua sebagai standar hidup kita.

Pilih standar yang lebih tinggi dari standar orangtua.

Standar dari Allah.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed