Text
Aku punya pertanyaan sama kamu…
Jika hidup ini adalah sebuah kompetisi, di kompetisi mana saja kamu sedang bertanding?
[ … ] Kompetisi Jadi Orang Sukses.
[ … ] Kompetisi Jadi Glow-up.
[ … ] Kompetisi Jadi Orang Kaya.
[ … ] Kompetisi Jadi Orang Pintar.
[ … ] Kompetisi Jadi Orang Populer.
Di kompetisi-kompetisi ini, kamu ngerasa lumayan tertinggal, ya, dari teman-temanmu?
Kayak, teman-temanmu melaju begitu cepat, dan kamu berlari kepayahan, sampai terengah-engah, berulang kali terjatuh, tapi tetap berjuang, tapi kamu nggak pernah mampu melampaui mereka.
Bahkan, beberapa temanmu sudah menyentuh finish line, tersenyum lebar, meninju piala-piala kemenangan mereka di udara. Dan, kamu, bersama lutut berdarahmu, pelipismu yang berdebu dan berkeringat, hanya mampu memandang dari kejauhan.
Lalu, kamu mulai menyalahkan dirimu, menganggap dirimu nggak berguna, menjadi orang paling pecundang dalam hidup, hanya beban keluarga yang nggak ada untungnya.
My dear friend, aku mau mengakui sesuatu buat kamu.
Nggak apa-apa, ya?
Mungkin, ini bukan kompetisi yang cocok buat kamu.
Jadi orang sukses. Jadi orang kaya. Bisa glow-up. Jadi orang paling pintar. Jadi orang populer. Mungkin, ini bukan kompetisi yang tepat buat kamu.
Ini seperti kompetisi berenang antara kucing dan ikan. Seperti kompetisi berlari untuk kucing dan ikan. Nggak nyambung. Nggak akan bisa. Nggak adil.
Sama kayak ini. Mungkin, ini bukan kompetisi yang cocok buat kamu.
Bagaimana kalau kamu memilih kompetisi lain?
Kompetisi jadi orang yang lebih baik.
Kompetisi jadi orang yang lebih bijaksana, pandai mengambil hikmah dalam setiap kejadian.
Kompetisi jadi orang yang mampu mengapresiasi hal-hal sederhana dalam hidup, termasuk perjuangan kecil dari dirinya sendiri.
Kompetisi jadi teman yang suportif dan peduli.
Kompetisi jadi orang yang lebih dermawan.
Kompetisi jadi orang yang lebih rajin dalam mencari tahu hal bermanfaat, mempelajari dan berusaha mengamalkannya.
Tapi, kamu nggak harus jadi pemenang di semua kompetisi ini. Nggak semua kompetisi harus kita menangkan, tapi perlu kita perjuangkan, sebisa kita.
Dan, aku nggak mau kamu berkompetisi dengan siapa pun dulu, selain dirimu sendiri yang kemarin.
Fokus di situ dulu. Pelan-pelan. Bismillah. Mudah-mudahan Allah mudahkan.
Lalu, tentang kompetisi menjadi orang sukses, kaya, populer, glow-up, pintar, kamu boleh bertarung di kompetisi ini, kok. Tetapi, kamu nggak harus memenangkannya. Bertarung aja, hanya untuk diri yang lebih baik.
Dan, teman-teman yang sudah melampauimu?
Ya, sudah, nggak apa-apa. Itu artinya mereka sudah menemukan kompetisi yang tepat untuk mereka, tetapi akan ada beberapa kompetisi yang hanya bisa kamu menangkan, dan mereka akan melihatmu dari kejauhan, tertinggal…
because you’re so good at it.
Tapi…, aku ingin kamu tahu satu kompetisi yang indah dan penting.
Kompetisi yang nggak boleh kamu lupakan.
Kompetisi yang nggak akan terhalang oleh privilege.
Mau kaya atau miskin. Mau good-looking atau enggak. Mau punya otak encer atau enggak.
Ini adalah kompetisi paling adil, paling masuk akal. Semua punya kesempatan yang sama.
Kompetisi jadi orang yang paling baik dalam menjaga salatnya.
Kompetisi jadi orang yang paling banyak berzikir, beristighfar.
Kompetisi jadi orang yang paling banyak mengingat Allah, meski dalam keramaian.
Kompetisi jadi orang yang paling banyak berjuang mendekatkan diri kepada Allah.
Kompetisi jadi orang yang lebih bertakwa kepada Allah dari hari ke hari.
Inilah kompetisi mengejar akhirat. Kompetisi masuk surga.
Ini bukan kompetisi yang gampang.
Tapi, inilah kompetisi yang kita sesungguhnya butuhkan.
Dan, seringkali, ini hanya soal mau atau enggak. Kalau kita benar-benar mau dan jujur berdoa kepada Allah, pasti Allah akan bantu kita dalam kompetisi ini.
Dan, inilah kompetisi yang paling nggak merugikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Nggak gampang, tapi nggak akan pernah merugikan.