Text
Di depan Labirin Harta Karun, ada remah-remah biskuit.
Biskuit merah muda gemerlapan, berbentuk hati, kecil-kecil.
Aku, kamu, dan Bahagia berdiri di ujung gerbang tak berpintu.
Labirin ini berdindingkan rerumputan yang tinggi, padat, dan rapi.
Kamu mengambil langkah, mengikuti remah-remah biskuit itu.
“Kita ikutin ini aja kali, ya?” celetuk Bahagia.
Jangan, sebenarnya aku ingin bilang begitu.
Tapi, kubiarkan dulu kamu dan Bahagia berjalan di depan.
Berjalan, berjalan, dan berjalan.
Kadang, tak ada remah biskuit yang bisa diikuti. Kadang, kamu harus menebak jalur mana yang harus kamu ambil.
Remah biskuit ini… sebenarnya, seperti remah kasih sayang dia. Aku ingin bilang begitu. Tapi, lidahku kelu.
Sampai di perempatan labirin, tak ada lagi remah-remah biskuitnya, kamu dan Bahagia bingung harus ke mana.
“Kamu butuh belajar menentukan arah hidupmu sendiri, dan arahnya tak boleh ada dia,” kataku akhirnya.
“Maksud kamu gimana?” tanyamu dan Bahagia bersamaan. Lagi.
“Arah hidupmu tidak boleh ditentukan dari remah kasih sayang yang dia berikan. Coba kamu perhatikan lagi. Akhir-akhir ini, perjuanganmu, doa-doamu, harapmu, mimpi besarmu selalu berhubungan dengan mendapatkan kasih sayang dari dia. Berjuang ini-itu, berharap dia sayang. Doa ini-itu, ujung-ujungnya berharap dia baik kepadamu dan menyayangimu. Harap ini-itu, paling dominan harapan tentangnya. Bahkan, mimpi besarmu, ada dia di sana — tinggal selamanya bersamamu, bahagia selamanya. Dan, ini semua perasaan yang manusiawi dan normal. Tapi, yang nggak normal adalah… semua arah hidupmu selalu ada dia, dia, dia. Aku khawatir kamu akan makin tenggelam sama sisi toxic-mu yang ini. Maka, belajarlah mengambil keputusan dan arah hidupmu tanpa harus memikirkan remah kasih sayang dia. Belajar tidak mengejar remah kasih sayang — itu cuma remahan, tapi kamu anggap seperti bongkahan berlian kasih sayang, cuma remahan yang di bawah standar. Belajar meningkatkan standar bagaimana kamu harusnya diperlakukan.”
“Tapi, bagaimana kalau sebenarnya dia sepenting itu di hidupku?”
“Mungkin, itu masalah lainnya: kamu meletakkan posisi dia setinggi itu, sepenting itu. Padahal dia tidak meletakkan posisimu setinggi itu juga, tidak sepenting itu juga. Mungkin, kamu juga tak punya pilihan, jadi kamu meletakkan dia di puncak tertinggi kehidupanmu, ketika, harusnya, dia tidak selayak itu berada di sana.”
“You don’t know how it feels to be me,” ucapmu bergetar.
Tiba-tiba…
Erangan. Ada suara erangan. Seperti orang kesakitan. Seperti suaramu.
Tapi, kamu ada di sini, Bahagia juga ada di sampingmu.
Kita bertiga diam di tempat. Nah. Suara erangan itu lagi.
“Kayaknya di sini,” kata Bahagia, bergerak ke arah kiri.
Aku dan kamu mengikuti Bahagia.
Suara erangan makin dekat.
Kita bertiga makin bergegas.
Makin dekat lagi.
Lebih cepat lagi.
Dan…
Hatimu rasanya seperti jatuh dari ketinggian.
Karena versi dirimu yang lain telah terkulai di tanah, luka di sekujur tubuhnya.
Dia adalah versi dirimu yang lain. Mengenakan baju merah muda bertuliskan ‘INGIN DICINTAI’ — yang mulai sekarang kita sebut dia ‘Cinta’.
Aku, kamu, dan Bahagia membopong Cinta keluar dari Labirin Harta Karun.
Tak lagi mengikuti jejak remah biskuit.
Kita memilih arah kita sendiri, dan akhirnya kita bisa keluar.
“Waktu aku ngikutin remah-remah biskuitnya, aku kira bakal ada harta karunnya, tapi malah perangkap. Tapi, aku tetap jalan lagi, mengikuti remah-remahan itu, lalu perangkap lagi, remah-remah lagi, perangkap lagi, remah-remah lagi, tapi aku kok jalan terus, tapi nggak pernah sampai di harta karunnya?” Itulah yang dikatakan Cinta ketika kamu bertanya apa yang terjadi.
Dan, di situlah — semoga — kamu paham.
Remah kasih sayang ini tak akan pernah ada ujungnya.
Sejauh apa pun kamu berjalan mengekori remah-remah kasih sayang, tak ada harta karun bernama ‘cinta’ di ujung sana.
Sejauh apa pun kamu berjalan mengekori remah-remah kasih sayang, dia tak akan pernah ada untukmu secara utuh.
Malah, semakin kamu mengejar remah kasih sayang ini, semakin kamu hilang arah, hilang diri, hilang tujuan.
Remah kasih sayang ini hanyalah tindak manipulatif agar kamu tidak pergi. Tapi, tak perlu beri banyak. Cukup remahan. Kamu sudah terima. Kamu sudah kecanduan. Karena standarmu sudah terlanjur rendah. Dan, standar rendah ini datang karena kamu merasa tidak layak menerima yang lebih dari ini. Standar rendah ini datang karena kamu terlalu takut menghadapi kesepian. Standar rendah ini datang karena kamu merasa dirimu berharga jika ada seseorang membuatmu merasa berharga. Meski harganya hanyalah remehan kasih sayang.
Dan, mungkin, sejak kecil, kamu tak tahu bagaimana harusnya dicintai secara manusiawi.
Jadi, remahan kasih sayang ini adalah kenormalanmu.
Harusnya tak begini. Tapi, tidak apa-apa. Kita sama-sama belajar di sini.