4.⁠ ⁠⁠Berwisata di Air Terjun Air Mata

Selamat datang di Wisata Air Terjun Air Mata.
Di sini, ada aku, kamu, dan dia.

Aku — dirimu di masa depan. Kamu — dirimu yang sekarang, yang sedang membaca buku ini dan berpetualang di dalamnya. Dia — diri kecilmu.

Masing-masing duduk di batu besar. Menyaksikan derasnya air mengalir dari tebing. Jatuh ke kolam di bawahnya. Menampiaskan titik-titik airnya ke dahimu, kakimu, tanganmu pipimu, bibirmu.

Kamu merasakan air itu di lidahmu.

Alismu mengerut. Asin.

“Ini adalah Air Terjun Air Mata. Semua ini adalah air matamu, di seluruh hidupmu,” ucapku, lalu pergi meninggalkan kalian berdua.

“Jadi dewasa itu… apakah kita jadi nggak cengeng lagi?” tanya diri kecilmu.

Oh. Lebih cengeng than you could ever imagine.

Kamu tersenyum getir sambil mengelap titik-titik air di tanganmu, melembapkan seluruh lengan dan wajah. Saat angin menerpa, rasanya sejuk. “Haruskah aku berkata jujur?” batinmu.

“Kita malah lebih banyak nangis pas udah dewasa.”

“Apa yang bikin nangis?”

Iya, apa yang bikin kamu sering menangis?

Pandanganmu tertegun menatap riak-riak di kolam ini. “Mungkin, karena saat dewasalah, kita merasakan kegagalan yang bertubi-tubi. Mungkin, karena saat dewasalah, kita merasakan lelahnya mental, beratnya tanggungan, memikul semua sendiri, sambil berjalan menuju ketidakpastian. Mungkin, karena saat dewasalah, kita merasa kurang disayang, kurang dipahami, kurang dipedulikan. Mungkin, karena saat dewasalah, kita mulai kehilangan orang-orang berharga di hidup kita. Mungkin, karena saat dewasalah, kita mulai sensitif terhadap emosi-emosi yang kita rasakan. Mungkin, karena saat dewasalah, everything happens all at once, and we’re just not ready.

Diri kecilmu bergeming. Matanya kosong, tapi ada sepercik ketakutan di sana. Anak kecil ini butuh harapan. Jadi, kamu melanjutkan,

“Tapi, cuma saat dewasalah, kita bisa mendapatkan kesuksesan yang bertubi-tubi — meskipun aku belum mendapatkannya sekarang, someday we will, di masa dewasa ini. Cuma saat dewasalah, kita bisa belajar menjadi seseorang yang teguh dan tegar — meskipun aku belum seperti itu, someday we will, di masa dewasa ini. Mungkin, cuma saat dewasalah, kita lebih bisa menghargai dan mengetahui siapa saja orang-orang tulus di hidup kita, yang patut kita pertahankan — meskipun aku belum tahu siapa mereka, someday we will, di masa dewasa ini. Dan, kalau kita bisa menemukan itu semua, kita juga akan menangis. Menangis bahagia.”

Diri kecilmu tersenyum girang. Dia berdiri di atas batu yang basah ini. Merentangkan tangannya. Membiarkan terpaan air dan angin di tubuhnya kecil.

“Waktu kita masih kecil, lalu kita menangis, kita biasanya dianggap cengeng. Kalau udah dewasa, gimana dong? Masa kita tetap cengeng?” tanyanya — suaranya samar ditelan Air Terjun Air Mata.

Kamu tertawa pelan mendengar pertanyaan konyol itu.

“Anehnya, pas udah dewasa, orang-orang malah lebih peduli kalau tahu kita lagi nangis. Tapi, kalau udah dewasa, kita nangisnya udah nggak di depan teman atau orangtua. Kita seringnya nangis sendiri di kamar. Jadi, nggak ada yang tahu kalau kamu lagi nangis.”

“Kok kasihan?”

Kalau dipikir-pikir, iya, ya, kok kasihan?

“Aku juga nggak tahu kenapa. Tapi, yang aku tahu: Kita menangis karena kita masih bisa merasakan perasaan. Kita menangis karena kita peduli sama hidup kita. Kita menangis karena kita sayang sama diri kita. Kita menangis karena ada sesuatu yang berharga di hidup kita. And, I think that’s wonderful to be able to cry it out.

Kamu ikut berdiri di atas batu yang basah ini. Merentangkan tanganmu. Memejamkan matamu. Merasakan terpaan Air Terjun Air Mata dan anginnya.

Lalu, kamu meraih tangannya, menggenggamnya, dan berkata, “Nggak usah terlalu berusaha keras jadi orang dewasa yang memendam perasaannya, yang semua di-gapapa-in, demi merasa kuat, yang sebenarnya cuma pura-pura. If you feel like crying, cry it out. Perasaan ada untuk dirasakan.”

Kemudian sebuah asap menggeliat di kolam air terjun. Saat asap memudar, ada pintu ungu berdiri kokoh. Sedikit tenggelam.

Dan, aku — dirimu di masa depan — telah menanti kalian di samping pintu berwarna ungu ini.

Kamu dan diri kecilmu turun ke kolam yang airnya sebetis, berjalan cepat menuju pintu itu. Menggenggam kenopnya, mendorong, membuka, melangkah.

Dan, sekarang, kamu berada di Pulau Permen dan Es Krim.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed