Text
Selamat datang di Pulau Permen dan Es Krim!
Bola matamu mengarah ke segala arah. Terperangah. Melihat langit merah muda dan awan-awan gulali, menjatuhkan gerimis berupa permen-permen. Diri kecilmu membuka tangan lebar-lebar untuk mengumpulkan semua permen yang jatuh dari langit.
Kamu dan diri kecilmu menyusuri jembatan batangan cokelat. Setiap tapakannya adalah batang cokelat. Di bawah jembatan, ada sungai es krim vanila yang mengalir pelan. Di ujung jembatan yang panjang ini, pintu berwarna ungu telah menanti, dan aku — dirimu di masa depan — menunggu kalian di sana.
Sungguh, ini adalah dunia yang manis nan indah. Rasanya seperti dunia penuh cinta dan kasih sayang.
“Apakah kita disayang seperti ini saat udah dewasa?” tanya diri kecilmu sambil mengulum permen yang jatuh dari langit merah muda.
Dan, gerimis permen berhenti turun. Yang ada hanya aliran sungai es krim vanila dan deru angin yang membawa aroma manis gulali.
Kamu dan diri kecilmu menghentikan langkah di tengah jembatan batangan cokelat. Menggenggam talinya. Memandang aliran kental sungai di bawah, seperti lava yang saling berkejaran dan menindih, tapi ini putih, dingin, dan manis. Berpikir: Harus jawab apa, ya?
“Apakah orangtua kita akhirnya sayang sama kita? Dan, nggak pernah marah-marah lagi?” tuntutnya sekali lagi.
Hatimu berkecamuk. Kalau harus jawab jujur, kamu akan berkata, “Aku masih sakit hati sama beberapa ucapan mereka. Aku masih nggak suka sama cara mereka membandingkan kita dengan anak lain, membuat kita merasa nggak pernah cukup sama diri sendiri. Aku kecewa setiap kali mereka lebih mendahulukan marah daripada kasih sayang untuk mengingatkan kita. Jujur, aku belum merasakan cinta yang aku harapkan dari mereka.”
Tapi, apakah ini jawaban yang bijaksana untuk seorang anak kecil?
Matamu terpejam. Fokus mencari jawaban paling bijaksana, tapi tetap jujur. Menelusurinya di dalam kepala.
Lalu, seperti ada lilin kecil yang menyala dalam kepalamu.
Lilin kecil itu membawa bayangan masa kecil.
Permen dan es krim yang dulu Ibu dan Nenek belikan untukmu. Aroma masakan yang Ibu buat tanpa pernah kamu minta. Mainan-mainan yang berhamburan di berbagai ruangan. Langkah pertamamu — siapa yang mengajarinya? Hari pertama masuk sekolah. Hari pertama jadi anak SMP dan SMA. Siapa yang mengantarkanmu? Siapa yang memperjuangkan berbagai tingkat pendidikan itu untukmu? Mimpi dan hidup siapa yang harus direlakan demi keberadaanmu di dunia ini?
Lalu, berbisik,
“Cinta… punya banyak bahasa dan bentuk. Mungkin, mereka nggak bisa menyayangi kita dengan cara yang kita inginkan. Mungkin, mereka bukan pendengar terbaik di hidup kita. Mungkin, mereka nggak bisa memberi pelukan yang kita butuhkan di hari-hari kelam. Tapi, aroma masakan di pagi hari, pendidikan yang kurang kita hargai, mainan-mainan yang bersisa dari masa kecil, doa-doa di sepertiga malam yang nggak pernah kita dengar — apa itu semua kalau bukan cinta?” lanjutmu.
“Aku paham kita butuh cinta di level emosional, bukan sekadar materi. Tapi, menjadi dewasa adalah belajar kalau cinta nggak selalu tentang menyirami kita dengan afeksi, memeluk kita di hari-hari kelabu, selalu suportif dan berkata ‘iya’ untuk apa yang kita mau.
Pada akhirnya, Allah tahu dosis cinta yang cukup untuk kita. Kita menerima dosis yang cukup. Meskipun memang terasa kurang, but that’s still love. Cinta akan selalu terasa kurang. Dan, mereka — orangtua kita dan ketidakmampuan mereka menyayangi kita di level emosional, semoga menjadikan kita lebih kuat menghadapi ketidakpastian hidup. Kalau kita terbiasa disayang sesuai yang kita inginkan, it could be good, tapi itu juga bisa buruk untuk pendewasaan kita.
Kita jadi melihat dunia serba hitam-putih. Terbiasa mendapatkan apa yang kita mau menjadikan kita susah beradaptasi sama ketidakpastian dunia dewasa. Sungguh, Allah tahu dosis cinta yang tepat untuk kita.”
Wow. Kamu tidak menyangka bisa sedewasa ini.
Kamu juga tidak menyangka membawa nama ‘Allah’ dalam dialogmu. Karena kamu bukan seseorang yang religius. Hubunganmu dengan Allah… sesuatu yang naik-turun. Jadi, membawa nama ‘Allah’ terasa seperti sesuatu yang aneh di bibirmu, tapi… alami. Karena, pada akhirnya, siapa yang mengatur ini semua?
“Mereka juga manusia biasa. Cinta sempurna seperti apa yang kita harapkan dari manusia yang juga nggak sempurna?”
Kamu tak tahu apakah anak kecil ini bisa mencerna semua yang kamu ucapkan. Tapi, kalau pun tidak, at least, ini pesan untuk dirimu sendiri.
Kamu dan diri kecilmu lanjut menapaki batangan-batangan cokelat, berjalan menuju pintu ungu itu.
“Tapi, apakah mereka berubah?” tanya diri kecilmu.
“Mungkin,” jawabmu bingung. “Tapi, mungkin, mungkin aja, mereka berubah bukan karena mereka berubah, tapi cara kita melihat mereka yang berubah.”
Diri kecilmu mengangguk dan tersenyum.
Kalian bergandengan tangan. Tiba di pintu ungu itu. Membukanya.
Dan, sekarang, kita berada di sebuah lembah. Lembah apa ini?