Text
Kadang, kita udah berhasil berdamai sama insecurity kita, tapi ucapan orang-orang bikin kita cemas lagi sama insecurity ini.
Overthinking lagi.
Jadi, sekarang, ayo kita tuliskan daftar-daftar omongan orang yang sering bikin kita tenggelam dalam insecurity:
Saat baru lulus sekolah:
“Kenapa nggak lanjut kuliah?”
“Kok milih jurusan itu, sih?”
“Kok kuliah di situ, sih?”
Sudah kuliah:
“Susah, tahu, dapat kerja kalau masuk PTS.”
“Kuliah tuh percuma, buang-buang duit orangtua. Lihat, banyak tuh orang sukses, tapi nggak kuliah.”
“Percuma kuliah, kalau nanti ujung-ujungnya nganggur.”
Lulus kuliah:
“Kok masih nganggur aja, sih?”
“Temanmu itu udah dapat kerja, lho. Kamu kapan?”
Sudah dapat kerja:
“Kenapa, sih, milih kerja di situ? Kenapa nggak PNS aja? Biar dapat jaminan di masa tua.”
“Mending cari kerjaan lain yang lebih banyak gajinya deh.”
“Masih jadi karyawan? Idih, masa mau jadi bawahan terus, sih.”
Buka usaha:
“Mending kamu kerja yang pasti-pasti aja deh. Gini, kan, nggak laku-laku.”
“Fokus kerja terus, kapan nikah?”
Sudah nikah:
“Kapan punya anak?”
“Kok masih ngontrak, si itu udah beli rumah, lho.”
Sudah punya anak:
“Kapan nambah? Kasihan, lho, nggak punya adik.”
“Kok anakmu belum bisa ngomong, sih?”
“Kok anakmu belum bisa jalan, sih?”
Sudah punya rumah dan anak lagi:
“Nggak nambah lagi, nih?”
“Kok ruang tamunya kayak gini, sih. Sofanya juga, kok, beli yang kayak gini.”
“Lokasi rumahnya kurang strategis, ya. Panas juga di sini.”
Punya anak banyak:
“Ngapain punya anak banyak-banyak? Sekolah sekarang mahal banget, lho.”
Saat gemuk:
“Ih, gendut banget, sih. Diet dong.”
Sudah kurus:
“Bagusan kalau ideal, ini terlalu kurus di kamu.”
Ideal:
“Kalau berisi dikit lagi, jadi kelihatan lebih segar.”
Dan, daftar ini nggak akan berakhir kalau diteruskan.
Tapi, lihat deh…
Omongan orang tuh ada aja. Nggak bakal kelar kalau diikutin. Kita aja susah puas sama diri sendiri, gimana mau memuaskan orang lain?
Nggak ada ceritanya kita bisa memuaskan orang lain. Kita udah melakukan satu hal, mereka minta lain hal. Nggak akan selesai.
Jadi, sekarang, setiap kali mereka bilang ini-itu tentangmu, kamu cukup bilang sama dirimu sendiri:
Apakah aku mengganggu hidupnya dengan apa yang terjadi padaku sekarang? Apakah aku merugikan dia dengan apa yang dia katakan? Apakah dia tahu perjuangan yang sudah aku usahakan?
Pasti jawabannya, mostly, enggak. Kalau pun iya, maka kita perlu perbaiki, sih.
Dan, tanyakan lagi pada dirimu:
Apakah Allah mewajibkanku demikian seperti yang dia katakan?
Dan, mereka nggak akan pernah berhenti bicara, dan kamu…
jangan pernah berhenti adukan ini semua kepada Allah.
Biar Allah yang berikan kamu jalan yang lebih luar biasa daripada luar biasanya rasa sakit yang mereka katakan kepadamu.