3.⁠ ⁠⁠Bernostalgia di Jalanan Masa Kecil

Sekarang, bayangkan kamu berada di ruang putih tak berbatas.

Semuanya benar-benar putih. Sejauh mata memandang.

Lalu, kamu melihat sebuah pintu berwarna ungu di depanmu.

“Itu adalah pintu lorong waktu. Pintu ini akan membawamu ke berbagai tempat yang kamu butuh datangi. Masuklah, dan temui seseorang yang berharga di sana,” ucapku.

Jadi, kamu berjalan menuju pintu itu. Meletakkan tanganmu di kenopnya, mendorongnya, lalu mengambil napas panjang dan langkah pendek, dan tiba-tiba…

… kamu berada di lokasi yang berbeda.

Ini adalah sebuah jalan. Jalanan dari masa kecilmu.

Dengan pohon-pohon hijau, langit biru, awan raksasa.
Tempat di mana kamu sering bermain bersama teman-teman masa kecilmu.

Tiba-tiba, kamu mendengar suara gerombolan anak kecil tertawa dan berlari. Jadi, kamu memutar kepalamu, dan…

… itu semua adalah teman masa kecilmu, berlari seakan mereka sedang main kejar-kejaran, bertebaran ke segala arah, tapi tak ada seorang pun yang melihatmu.

Sampai ada seseorang. Seorang anak kecil.

Menghentikan langkahnya. Berdiri di hadapanmu.

Kamu melihat sandal kotornya, kakinya, tubuhnya, lalu wajahnya.

Matanya.

Kedua matanya.

Kalian saling mengunci tatapan.

Dia tahu kamu. Kamu tahu dia.

Dia adalah dirimu yang dulu; dirimu yang masih anak-anak, berusia sekitar delapan atau sembilan.
Saling berhadapan, bersejajar, alis saling menekuk, membisu dan membeku.

Jadi, kamu melangkah mendekatinya.

Lalu, kamu berlutut, mensejajarkan kepalamu dan kepalanya, memberikannya sebuah senyum yang hangat, kemudian berkata, “Iya, ini aku.

Kalian berdua berjalan di jalanan masa kecil ini, saling menggenggam tangan.

“Jadi dewasa seru nggak?” tanyanya.

Apakah kamu akan jujur?

Kamu menarik napas panjang sebelum menjawab, membuka mulut, tapi tak kunjung bicara.

“Seru, kok!” katamu akhirnya, dengan senyum palsu, tak berani memandangnya.

“Kamu masih temenan sama mereka nggak? Terus kamu nikah sama siapa?”

Kamu tertawa. Kamu punya jawabannya, tapi anak kecil ini tak akan siap mendengarnya, jadi kamu bilang, “Nanti kamu juga tahu sendiri,” sambil tersenyum, melangkah, merasakan angin kecil menerpa wajah kalian.

“Tapi, aku, kan, pengen tahu!” 

“Hmm. Bakal ada teman yang datang dan pergi. Terus tentang udah nikah atau belum, ah, kamu masih terlalu kecil untuk tahu itu.”

“Terus, kamu jadi apa sekarang? Mimpi aku kesampaian nggak?”

Langkahmu terhenti, dia ikut berhenti.

Kamu menekuk wajahmu, meneguk ludah, tak tega melihat senyum anak kecil ini memudar mengetahui apa yang akan dia hadapi di masa depan.

“Jadi dewasa itu…” Suaramu bergetar.

“Jadi dewasa itu harus siap mengubur mimpi-mimpi. Jadi dewasa itu nggak bisa mimpi ketinggian lagi. Jadi dewasa itu harus realistis biar nggak sakit hati sama hidup.

“Jadi, salah, ya, kalau aku punya mimpi yang tinggiii sekali?”

Bibirmu tersenyum tipis, tapi matamu bersedih. “Hmm. Kadang, mimpi-mimpi besar itu… nggak selalu bisa tercapai. Jadi, yang realistis-realistis aja. Biar kita nggak perlu kecewa saat dewasa nanti.”

“Realistis?”

“Iya. Realistis.”

“Aku nggak ngerti.”

“Ya, biasa aja. Nggak usah muluk-muluk. Yang wajar-wajar aja. Nggak semuanya harus spektakuler. It’s okay to be an average.

Dan, ada sebuah genangan air mata bermuara di mata anak kecil ini.

Dadamu sesak. Kamu tak ingin menyakitinya. Tapi, inilah realitas menjadi dewasa.

“Jadi dewasa itu… banyak yang harus dipertimbangkan. Kita udah nggak bisa minta-minta ke orangtua lagi. Bahkan, kadang, kita yang harus bantu orangtua. Jadi dewasa itu… life just gets in the way. Kita punya tanggungjawab baru. Kita jadi lebih sibuk dan capek dan sedih. Sampai-sampai kamu nggak punya daya lagi untuk memperjuangkan mimpi-mimpi. Untuk bisa lanjut hidup aja, udah syukur banget. Jadi dewasa itu harus realistis. Realistis dalam segala kemungkinan. Realistis dalam berharap — supaya nggak kecewa sama harapan sendiri.”

Kamu tak tega menatap diri kecilmu yang sekarang telah menundukkan kepalanya. Jadi, kamu mendongakkan tatapanmu ke angkasa.

Ada pesawat terbang di langit biru. Melayang jauh menembus awan. Meninggalkan jejak-jejak yang panjang, lurus, dan putih. Matamu mengikuti jejak pesawat itu. Dan, pikiranmu tenggelam dalam lamunan.

Dulu, diri kecilmu sering bermain bersama imajinasinya. Menjadi pilot. Mengelilingi dunia. Melayang di angkasa. Menjadi pahlawan dengan kekuatan super. Menjadi putri-putri. Menjadi dokter, guru, astronot. Menjadi apa pun yang dia inginkan. Semua dalam imajinasi.

Ke mana perginya imajinasi itu saat dewasa, ya?

Beranjak dewasa, kamu berhenti bermain dengan imajinasimu. Kamu lebih skeptis dan realistis — atau kamu hanya pesimis tapi berlindung di balik kata ‘realistis’?

Apa pun itu, menurutmu, menjadi dewasa memang butuh skeptis dan realistis. Dan, aku — dirimu di masa depan — setuju dengan statemen itu. Tapi, apakah ini yang benar-benar kamu inginkan?

Tatapanmu masih mengekori pesawat terbang itu.
Ke mana, ya, perginya pesawat itu? Sudah sejauh mana pesawat itu terbang? Sudah ke samudera dan benua mana saja? Ada siapa saja, ya, di dalam sana? Kok bisa, ya, pesawat terbang setinggi itu? Gimana caranya?

Lalu, sesuatu klik di hatimu. Seperti ada lampu yang menyala di otakmu.

“Kalau semua harus terlalu realistis, mungkin nggak akan ada kendaraan yang bisa terbang bernama pesawat yang mampu mengarungi samudera dan melintasi benua. Kalau semua harus terlalu realistis, mungkin nggak akan ada perjalanan antariksa. Kalau semua harus terlalu realistis, mungkin komputer — yang dulunya sebesar sebuah ruangan — nggak akan bisa menjadi laptop dan ponsel yang bisa kamu bawa ke mana saja. Kalau semua harus terlalu realistis, mungkin nggak akan ada internet yang sekarang bisa mendekatkan dunia yang jauh.”

Pikiranmu lanjut berkelana,

“Mungkin, menjadi dewasa adalah tentang memadukan ‘sisi imajinatif dari masa kecil’ dan ‘sisi realistis dari masa dewasa’. Seperti bagaimana pesawat bisa terbang mengelilingi angkasa. Bermula dari imajinasi yang tidak realistis pada masanya, namun diperhitungkan, diteliti, dan diperjuangkan secara realistis. Sampai akhirnya, hari ini, kita bisa melintasi benua dengan waktu yang lebih cepat. Seperti bagaimana ponsel bisa ada di saku kita. Bermula dari imajinasi yang tidak realistis pada masanya, namun diperhitungkan, diteliti, dan diperjuangkan secara realistis.”

Kamu mengembuskan napas panjang. Napas kelegaan. Bersama setitik senyum yang baru terbit di bibir.

Diri kecilmu masih tertunduk. Jadi, kamu menepuk pundaknya. Menunduk sejajar dengan telinganya.

“Aku minta maaf,” bisikmu kepada diri kecilmu.

Diri kecilmu mengarahkan pandangannya kepadamu. Matanya basah, pupilnya membulat. Seumur hidupnya, tak ada seorang pun yang mengucap maaf kepada diri kecilmu. Kecuali kamu. 

“Jangan terlalu realistis sama hidup,” lanjutmu.

“Kamu bisa jadi pengusaha paling sukses di kotamu. Kamu bisa jadi penulis best-seller di seluruh dunia. Kamu bisa mengelilingi dunia, bukan karena sekadar kamu punya banyak uang, tapi karena kamu punya sesuatu yang dunia butuhkan. Tetaplah bermimpi hal-hal yang orang bilang nggak realistis,” ucapmu, lebih sebagai pengingat kepada dirimu sendiri.

“Tapi, tadi kamu bilang… realistis aja biar nggak kecewa?” tanya diri kecilmu.

“Iya, emang harus realistis. Tapi, realistis bukan berarti nggak boleh imajinatif. Realistis bukan berarti membatasi mimpi-mimpimu. Realistis bukan berarti mengerdilkan harapan-harapanmu. Kamu bisa punya mimpi yang besar, tapi tetap realistis dalam memperjuangkannya. Realistis juga berarti… kalau ada mimpi yang harus dilepaskan, bukan berarti kita nggak boleh menciptakan mimpi baru. Hilang satu mimpi, ciptakan sepuluh mimpi baru.”

“Tapi, tadi kamu bilang… kamu juga udah terlalu sibuk dan capek dan sedih?”

Kamu mengelus rambut diri kecilmu.

“Kalau aku belum sempat memperjuangkannya, setidaknya, aku bakal memperjuangkannya dalam doa dulu. Toh, nggak ada ruginya, nggak ada capeknya, kan?”

“Tapi, kalau doa doang, mana bisa tercapai?”

“Sekarang, kamu yang terlalu realistis.”

Lalu, kamu dan diri kecilmu tertawa bersamaan. Angin bertiup lembut.

“Semoga dengan berdoa, aku selalu ingat apa yang harus aku perjuangkan. Semoga dengan berdoa, aku bisa menemukan celah untuk memulai perjuangan ini. Semoga dengan berdoa, aku bisa menguatkan tekadku. Semoga dengan berdoa, Allah melapangkan jalanku, memberkahi usahaku, mendekatkan mimpiku lebih mudah dari yang aku bayangkan.”

“Amin,” ucapmu dan dia bersamaan.

Kamu dan diri kecilmu lanjut berjalan di tengah jalanan yang lengang ini.

“Aku janji akan memperjuangkan mimpi-mimpi kita. Tapi, aku juga minta maaf kalau belum sesuai harapan kamu,” katamu.

“Te… terima kasih udah mau memperjuangkan aku,” ucap diri kecilmu, dan sudut air di matamu mengalir pelan.

Di kejauhan, berdiri tegap sebuah pintu berwarna ungu. Berdiri begitu saja di tengah jalan. Dan, aku — dirimu di masa depan — sudah menantimu di sini, di Pintu Lorong Waktu ini, melambaikan tanganku.

Kamu dan diri kecilmu saling berkejaran ke arahku.

Kamu membiarkan diri kecilmu menang. Membiarkan diri kecilmu menyentuh kenop pintunya. 

Mendorongnya. Membukanya. Melangkah ke dalamnya.

Dan, sekarang, aku, kamu, dan dia berpindah ke Air Terjun Air Mata.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed