37.⁠ ⁠⁠Sekarang, Waktunya Aku yang Pergi…

Hai, waktuku sudah tidak lama lagi.

And I’m going to miss you so, so, so much.

Selama ini, aku selalu jadi yang bijaksana dan kuat, but it’s you — you’ve helped me.

Tentu, atas kehendak Allah semata.

Dan, tanpa semua versi dirimu—diri kecilmu dan kepolosannya dan mimpi imajinatifnya, diri remajamu dan keras kepalanya dan ketakutannya, diri duapuluhanmu dan turbulensi hidupnya dan airmata yang tak habis-habis, diri tigapuluhanmu dan keterikatannya dan kebebasannya dan semua versi dirimu—aku tak akan ada di sini, standing so strong and wise.

Jadi, tetaplah di sana, tetaplah ada, tetaplah bertahan, teruslah bermimpi meski masih menemukan kegagalan, teruslah berjalan meski rasa takut sering menyelimuti hati, teruslah merasa berbagai rasa, tejatuh di lembah depresi, bangkit menuju puncak tertinggi. Dan, terimalah semuanya. Segala kekurangan yang membuat kita terus berjuang dan bertumbuh seperti sekarang. Segala kesalahan yang membuat kita berusaha memperbaikinya—dan menjadikan kita manusia yang lebih baik. Segala kegagalan yang memaksa kita untuk terus berusaha sampai berhasil.

Memang, begitulah kehidupan. Nanti, bahagia yang sempurna, tenang yang sempurna, keadilan yang sempurna, ada di surga. Tapi, jangan merasa tak ada bahagia, ketenangan, keadilan di dunia ini. It’s always there, it will always be there. It’s just not perfect.

Dan, terima kasih sudah mau menemaniku di sepanjang perjalanan lorong waktu ini. Terima kasih sudah mau memberanikan diri untuk masuk ke setiap pintu yang menegangkan itu. Terima kasih sudah bertarung melawan kejamnya realitas. Terima kasih sudah mau berbaik hati pada diri kecilmu. Terima kasih sudah mau mendengarku dan mengoleksi berbagai pelajaran ini. Terima kasih sudah mau bertahan meski susah untuk bertahan. Terima kasih sudah mau belajar mengapresiasi hidup. Terima kasih sudah mau mencari secuil pencerahan di balik suatu masalah.

Bahkan ‘terima kasih’ adalah kata yang terlalu ringan untukmu. You deserve more than just a ‘thank you’. I love you, I see you, I value you, I respect you.

Dan, jangan pernah lupa kalau di dalam dirimu:

Masih ada kamu di usia dua tahun dan tawanya yang lepas. Masih ada kamu di usia tujuh tahun dan larinya yang kencang. Masih ada kamu di usia sepuluh dan mimpi besarnya. Masih ada kamu di usia tujuh belas dan pendiriannya yang kuat. Masih ada kamu di usia dua puluhan dan segala kegagalannya. Masih ada kamu di usia tiga puluhan dan kebebasannya. Masih ada kamu di usia empat puluhan dan kebijaksanaannya. Dan, seterusnya.

Sukseskan mereka. Bahagiakan mereka.

Dan, dalam dirimu, masih ada aku — dirimu di masa depan.

Dan, dalam diriku, masih ada kamu — diriku di masa sekarang.

Aku adalah dirimu di masa depan, tapi kamu tak tahu usiaku berapa. Tapi, nanti, saat kamu mencapai usia yang ini, you know I’m always here, and you’ll just be me.

Sekarang, aku merasa kakiku mengambang, bayang tubuhku semakin menipis, aku melihat kamu — di ruangan putih tak berbatas ini — mengalirkan air mata. Aku juga tak ingin kehilangan kamu.

But it’s time to go.

Please, jangan kecewakan anak kecil dalam dirimu.

Sekarang, aku bahkan tak dapat merasakan diriku lagi, aku tak mampu melihat tanganku lagi. Aku mulai berbaur dengan udara. Dan, perlahan-lahan, aku menghila —

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed