9.⁠ ⁠⁠Menyusuri Hutan Angker Bernama ‘Dewasa’

Selamat datang di Hutan Angker Bernama Dewasa.

Kamu dan diri kecilmu terjebak di sini.

Kabut tebal menyelimuti seisi hutan ini, menyulitkanmu mengambil langkah, seperti sulitnya mengambil keputusan. Pohon-pohon menjulur tinggi, setinggi ekspektasi orangtua. Cahaya redup, seperti ketidakpastian masa depan. Dan, saat angin berembus, terdengar gesekan daun dan ranting, yang terdengar seperti suara berisik di kepala.

Kamu dan diri kecilmu saling menggenggam tangan, perlahan-lahan bergerak maju. Sangat pelan. Karena setiap kali kalian memijaki langkah berikutnya, selalu ada sesuatu di tanah yang terinjak. Akar? Daun kering? Ular? Serangga? Ranting? Lumpur?

“Kalau kita udah dewasa, kita bakal jadi lebih berani nggak, sih?” tanya diri kecilmu, yang terasa seperti ejekan, karena telapak tanganmu basah dan dingin ketakutan.

“Dia butuh tahu kenyataannya,” pikirmu.

“Iya dan nggak,” jawabmu lugas.

“Maksudnya gimana?”

“Iya, kita bakal lebih berani. Kayak, beberapa ketakutan di masa kecil itu tuh jadi nggak ada apa-apanya lagi saat udah dewasa. Tapi…”

“Tapi?”

“Kita bertumbuh dari satu ketakutan ke ketakutan yang lain. Dulu, waktu kecil, kita takut monster di bawah tempat tidur, ruangan yang sangat gelap, takut jatuh dari sepeda saat baru belajar, takut diejek teman-teman. Sekarang, kita udah nggak takut semua itu. Kita jadi lebih berani sama ketakutan-ketakutan yang sebelumnya.

“Tapi, kita harus menghadapi ketakutan yang baru. Takut mengecewakan orangtua, takut nggak jadi apa-apa di masa depan, takut nggak bisa beradaptasi di dunia kerja. Itu hal yang aku takutkan sekarang. Tapi, semoga, nanti aku bisa melaluinya dan jadi lebih berani. Seperti kamu yang dulu takut monster di bawah tidur dan semacamnya, sekarang sudah nggak lagi. Aku yang sekarang takut gagal, mungkin diriku di masa depan nggak takut itu lagi.

“Jadi, kita bakal punya ketakutan yang baru. Tapi, kita juga punya banyak keberanian yang baru. Itu artinya kita bertumbuh.”

“Berarti rasa takut itu nggak pernah pergi, ya?”

Semakin dalam kamu melangkah ke hutan, semakin cepat langkahmu. Padahal terangnya tak bertambah, kabutnya tak juga menipis. Tapi, seakan kamu sudah lebih terbiasa.

“Mungkin, rasa takut ini nggak harus pergi. Mungkin, kita butuh rasa takut ini. Untuk antisipasi yang lebih strategis. Untuk persiapan yang lebih matang. Untuk mental yang lebih kuat.”

“Tapi, kalau rasa takut ini nggak pernah pergi, terus gimana kita bisa berjuang?”

Lalu, kamu dan diri kecilmu berhenti di pusat hutan ini. Di tengah sini, tak terlalu banyak pohon. Jadi, kamu dan diri kecilmu bisa mendongakkan kepala ke langit yang berawan. Lalu, kamu berkata,

Just do it with fear.

Do it with fear?

“Kadang, kita berpikir kita harus berani dulu untuk mencoba sesuatu. No, we don’t. Rasa takut perlahan beranjak pergi saat kita mau menghadapinya di depan mata. Kayak, kita di hutan ini. Waktu mulai berjalan, kita jalannya pelan banget, takut banget. Tapi, seiring waktu, kita jadi terbiasa. Dari terbiasa, kita jadi lebih cerdik dan berani.”

Kamu mengambil napas panjang sebelum melanjutkan,

“Takut itu bukan berarti lemah. Kalau kamu nggak pernah merasa takut, you’re doing it wrong. Kalau kamu nggak pernah merasa takut, kamu bakal sembrono banget sama hidup kamu. Dan, itu bakal nyusahin kita yang ada di masa depan. Aku malah senang kamu tuh punya rasa takut. Karena salah satu cara untuk jadi orang berani adalah memiliki rasa takut itu. Tapi, orang berani berusaha keras nggak membiarkan rasa takut itu menghentikan langkah mereka. Kayak, kita di hutan ini, kita nggak tahu apa yang kita injak di tanah, dan kita bisa aja berhenti karena nggak mau menghadapi rasa takut, tapi apakah itu membuat kita berprogres? Kan, enggak. So, we walk anyway. We walk with fear. And, that’s actually brave.

Lalu, kamu berjongkok, mensejajarkan pandanganmu dan diri kecilmu, lalu berkata,

“Kalau harus dibandingkan antara aku dan kamu, jelas, aku udah jauh lebih berani. Kamu nggak bakal nyangka kita bisa sekuat dan seberani ini. Tapi, apakah jadi lebih berani itu berarti nggak takut apa-apa lagi? Ya, nggak juga, kan? And, that’s okay.

Lalu, kamu berdiri lagi. Saat kamu menoleh ke belakang, pintu berwarna ungu itu telah muncul.

Jadi, kamu dan diri kecilmu membuka pintu itu.

Dan, tiba-tiba…
terang benderang,
bergoyang,
semua biru…

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed