33.⁠ ⁠⁠Lalu, di Usia Berapa Aku Meninggal?

Langkahmu menyentuh paving pejalan kaki.

Pandanganmu berpendar ke segala penjuru.

Langit biru tanpa awan. Pohon yang daun-daunnya mengering. Dan…

Ratusan batu nisan yang menancap ke tanah yang tandus.

“Kenapa kita ada di pemakaman lagi?” tanyamu — dan, wajar, ini kali ketiga kita ada di sini.

Aku meneguk ludah. Aku tahu jawabannya. Tapi, aku tak siap menyampaikannya kepadamu. Jadi, aku hanya bisa bilang,

“Berjalanlah dulu — ” izinkan aku mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan, “ —lalu amatilah pelan-pelan.”

Dan, kamu menurutiku. Berjalan, mengamati, pelan.

Mengamati setiap batu nisan yang ada di pemakaman ini.

Melangkah, melangkah, melangkah.

Sampai…

Hatimu terperanjat seperti jatuh dari ketinggian. Langkahmu membeku, lututmu melemas.

Matamu membatu pada satu batu nisan.

Lalu, matamu menghangat.

Lalu, genangan air lahir di bola matamu.

Lalu, jatuh ke pipi.

Lalu, langkahmu maju, bergetar — sangat, sangat bergetar. Mendekati batu nisan itu.

Ada namamu.

Ada namamu di batu nisan itu.

Nama lengkapmu terukir di batu nisan itu.

Dan, lututmu terlalu lemas untuk menopang kenyataan ini. Jadi, kamu terduduk, berlutut di samping makam itu. 

“Ini… aku?” tanyamu dengan suara yang rapuh.

“Iya,” lirihku.

Dan, punggungmu berguncang. Suaramu terisak lirih. Air mata mengalir seperti hujan yang deras.

Aku berusaha mengelus bahumu, tapi tubuhku sudah transparan— aku tak bisa menyentuhmu lagi. Kita memang sudah ada di akhir petualangan ini. Jadi, aku hanya bisa memandangmu.

Kemudian…

Kamu masih terisak.

Perlahan, kamu menyeka air mata di pipi. Memandang lagi namamu di batu nisan. Mengusap tanahnya — tanah yang menguburi jasadmu.

Jasad ini pernah menjadi seseorang yang melalui beratnya hidup, dan dia bertahan.

Jasad ini pernah menangis begitu banyak, dan, sekarang — semoga — dia tak perlu menangis lagi.

Jasad ini pernah menjadi bayi mungil yang selalu tenang dalam buaian ibunya. Jasad ini pernah menjadi anak kecil berusia dua tahun, yang tertawa saat dilempar ke udara oleh ayahnya. Jasad ini pernah menjadi remaja yang keras kepala dengan segala pendiriannya. Jasad ini pernah menjadi orang dewasa dengan segala dramanya. Jasad ini pernah jatuh dan bangkit. Jasad ini pernah bersalah dan bertaubat. Jasad ini pernah mencintai dan — akhirnya — dicintai.

Dan, semoga Allah merahmatinya.

Jasad ini telah mengoleksi berbagai rasa kehidupan. Sekarang, hidupnya lengkap. Hidupnya berakhir. Hidupmu berakhir. Di bawah tanah kering ini. Dengan batu nisan imajiner bertuliskan namamu.

“Di usia berapa aku meninggal?”

Aku mengangkat bahuku. Lalu, aku duduk di sampingmu, bertutur,

“Nggak ada yang tahu tentang kematian sampai ia benar-benar datang. Dan, mungkin, ini hikmah dari ketidaktahuannya kita perihal waktu kematian kita. Karena kalau kamu tahu kapan kamu meninggal, kamu akan merasa bebas dan aman saat berada di tahun-tahun yang jauh dari tahun kematianmu. Kamu akan lebih berani melanggar aturan-aturan Tuhan Pencipta Alam Semesta di masa muda. Dan, kamu bakal berpikir, ‘Ya, nanti aja, sih — aku bakal berubah kalau udah dekat waktu meninggal, kok. Masih lama ini.But that’s not how it works. Segala pelanggaran yang kamu lakukan akan selalu memiliki konsekuensi yang mempengaruhi — bahkan menyulitkan — kualitas hidupmu ke depannya. Dan, kalau kamu mikir kamu bisa mengubah dirimu di ujung waktumu, you can’t. Karena apa yang biasa kamu lakukan di masa mudamu telah menjadi habit. Mengubah habit nggak semudah mengangkat kelingking di atas meja. Some sins are so addictive — aku khawatir kamu meninggal dalam keadaan itu. Itulah, kalau kamu mengetahui rahasia kematianmu. Ketidaktahuanmu tentang kapan kamu meninggal membuatmu lebih was-was dan berhati-hati dalam bertindak. That’s actually good — untuk kesejahteraan dan kualitas hidupmu.”

Kamu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya, dan bukan hanya karbondioksida yang keluar bersamamu, tapi juga air mata yang lebih banyak, membayangkan dirimu yang ada di bawah tanah ini.

Apa yang sedang terjadi padanya?

Apa yang dia rasakan?

Apakah dia merasa sendiri?

Apakah dia tersiksa?

Apakah dia mendapat kenikmatan yang Allah janjikan?

“Lalu, aku meninggal karena apa?”

Izinkan aku menghela napas panjang sejenak.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed