11.⁠ ⁠⁠Kembali ke Rumah Masa Kecil

Kamu dan diri kecilmu berdiri di depan sebuah rumah.

Rumah masa kecilmu.

Warna dindingnya, daun pintunya, halamannya.

Ini rumah masa kecilmu. Kamu tersenyum memandangnya.

Lalu, masuk ke dalam.

Melihat setiap ruangan. Melihat setiap perabotan. Apakah Ayah dan Ibu ada di rumah? Bagaimana, ya, wajah mereka saat aku masih kecil?

Diri kecilmu mengekorimu di belakang. Tiba-tiba, dia bertanya,

“Aku minta maaf, ya, kalau belum jadi anak yang baik dan membanggakan.”

Langkahmu terhenti. Memutar badan. Melihat anak kecil ini. Diri kecilmu. Dan, matamu menghangat melihat tubuh mungil ini. Merasakan beban kata-katanya.

“Kenapa kamu ngomong gitu?” responsmu, suaramu gemetar menahan tangis. “Aku yang harusnya minta maaf.”

“Kadang, aku ngerasa cuma jadi beban aja.”

Kamu menelan ludah. Sakit rasanya mendengar ini secara langsung dari diri kecilmu. Sejak kecil, kamu sudah tahu rasanya jadi beban, tapi ucapan itu menyentuh hatimu seperti irisan pisau.

Lalu, kamu duduk di lantai. Dia ikut duduk. Ini akan jadi pertemuan terakhir.

Kamu tak berani memandang wajah diri kecilmu. Jadi, sambil menunduk, kamu berkata lembut,

“Aku minta maaf belum jadi orang dewasa yang membanggakan buat kamu.” Suaramu pelan, pelan sekali. “Aku minta maaf belum bisa kasih kehidupan yang layak buat kamu, tapi aku janji aku bakal berjuang lebih baik.”

Air mengalir di pipimu.

“Sebenarnya, aku bangga sama kamu, kok. Aku bangga banget kamu bisa bertahan sekuat itu padahal kamu masih sekecil ini. Kamu bantu aku, menyambungkan hidupku. Aku bangga banget sama kemampuan kamu berbahagia sama hal-hal kecil. Aku kangen bisa kayak gitu lagi. Aku bangga banget sama hatimu yang pemaaf. Cara kamu bermain lagi sama teman kamu padahal baru berantem kecil. Cara kamu kembali ke Ayah dan Ibu padahal mereka abis marahin kamu, dan itu menciptakan luka baru di hatimu, tapi kamu tetap kembali seakan nggak ada apa-apa. Aku kangen punya hati pemaaf seperti kamu.”

Sekarang, air mata mengalir di pipinya.

Seumur hidup anak kecil ini, tidak pernah ada orang dewasa yang pernah mengaku bangga kepadanya.

Kecuali kamu.

“Aku juga minta maaf tentang orang-orang dewasa yang selalu bikin kamu merasa serba salah. Mengerdilkan mimpi kamu. Nggak dengerin kamu. I will. I will fight for you.

Tangan kalian saling berpegangan.

Lalu, diri kecilmu berkata, “Aku juga — ”

Tiba-tiba…

… hilang.

Pegangan tangannya terasa seperti udara.

Kamu terdiam, terjebak dalam kekosongan

Sunyi menyelimuti sekelilingmu, seolah dunia berhenti berputar.

Lalu, semua memudar seperti lilin yang meleleh.

Dan, sekitarmu menjadi silau, lalu putih, seputih kanvas.

Dia telah pergi sebelum kamu sempat mendengar ucapan terakhirnya.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed