Text
We are the instant generation.
Kita adalah generasi yang terbiasa dengan hal-hal instan.
Bosan? Tinggal buka Instagram atau Tiktok. Pengin beli makan, tapi malas keluar? Tinggal pesan ojek online. Butuh tutorial? Langsung nonton di Youtube. Lagi mau cari tahu sesuatu? Langsung cari di Google. Kesulitan bikin tugas? Lagi-lagi Google.
Dan, kita begitu terbiasa sama hal-hal instan sampai kita terbutakan sama realitas yang sesungguhnya.
Bahwa, di dunia nyata, things aren’t so instant.
Kayak…
Apakah kamu pernah melihat progres, detik demi detik, dari tubuhmu yang meninggi?
Bukankah progresnya baru kelihatan setelah kamu sudah tinggi dari sebelumnya?
Apakah kamu pernah melihat progres, detik demi detik, dari kuku-kukumu yang memanjang?
Bukankah progresnya baru kelihatan setelah kukumu sudah memanjang?
Apakah kamu pernah melihat progres, detik demi detik, bagaimana bintang-bintang muncul di langit?
Bukankah progresnya baru kelihatan setelah bintang sudah muncul?
And, that’s the thing about progress.
Selama ini, kita selalu menganggap progres tuh seperti sesuatu yang tampak, besar, mengagumkan, mengubah hidup.
Seperti mendapatkan harta karun tanpa diduga, lalu mendadak jadi orang kaya. Seperti kedatangan pangeran berkuda, lalu menikah, lalu bahagia selamanya. Seperti melihat aurora untuk kali pertama.
Progress isn’t a life-changing thing.
Progres itu pelan, kecil, you can’t really see it.
Seperti kamu yang nggak bisa melihat setiap inci yang bertambah dari tinggi tubuhmu, bagaimana kuku dan rambutmu memanjang, bagaimana bintang-bintang muncul di langit malam. sdd–sd
Progress is something so slow, so tiny, so subtle, you can’t really see it.
Dan, hanya karena kamu nggak melihat progresmu, bukan berarti nggak ada progres.
Seperti tubuhmu yang terus meninggi, kuku dan rambutmu yang terus memanjang, tanpa pernah kelihatan berubah secara signifikan.
Progres itu pelan dan kecil, you can’t really see it.