Text
Tapi bagaimana kalau…
… cinta adalah angin yang bertiup di pagi hari, hangatnya sinar matahari setelah malam yang panjang dan gelap, naungan awan di hari yang panas, rintik-rintik hujan, aroma masakan ibu, langkah pulang kaki ayah, bumi tempatmu bernaung, doa-doa yang terjawab dengan cara yang indah, doa-doa yang tak terjawab tapi terselamatkan, that’s all love, you’ve been loved.
you’ve really been loved.
“Tapi, aku ingin cinta yang nyata dari pasangan!”
“Kalau kamu nggak pernah merasa cukup dengan cinta-cinta yang sudah ada, kamu nggak akan pernah cukup dengan cinta baru yang kamu dambakan.”
“Kalau kamu nggak pernah mengapresiasi cinta-cinta yang sudah ada, kamu nggak akan pernah mengapresiasi cinta baru yang kamu dambakan–kecuali dalam waktu yang singkat.”
“Karena cinta selalu seperti itu… ia tak selalu kelihatan, tak selalu terasa, punya bahasa berbeda-beda, sampai kamu berusaha melihat ragam macam cinta dan mengapresiasi semua yang sudah kamu dapat–barulah nanti kamu bisa merasa cukup dengan cinta-cinta baru yang kamu dambakan. Kalau pun cinta yang baru belum datang, kamu sudah tahu rasanya cukup, dan…”
“… siapa yang nggak jatuh cinta dengan orang yang tahu rasanya cukup di dunia yang selalu menuntut ketidakcukupan?”