Text
Ketika seseorang jadi pilihan pertamamu, tapi kamu bukan pilihan pertamanya, that hurts so bad.
Ketika seseorang jadi pilihan pertamamu, tapi kamu cuma pilihan paling terakhir, that hurts so bad.
Ketika kamu berusaha keras menaklukan berbagai kekuranganmu agar dipilih, tapi kamu nggak pernah jadi opsi pertama di kehidupan siapa pun, lalu kamu nggak pernah merasa cukup terhadap dirimu sendiri, that hurts so bad.
Aku nggak bisa bohong kalau… I’ve been there, too, a few times.
Efeknya? Aku kehilangan nilai diriku. Aku merasa aku selalu salah dan kurang. Aku merasa aku nggak selayak itu. Aku nggak pernah cukup untuk seseorang yang berarti buat aku.
Maka, apa yang aku lakukan?
Aku menjauh.
Nggak menjauh, sih.
Lebih kayak… I’m not trying hard anymore.
Aku berhenti berjuang menjadi nomor satu di kehidupan orang-orang.
Aku berhenti berjuang keras untuk orang-orang itu.
Tapi, aku tetap dalam mode berjuang.
Tapi, ini perjuangan yang berbeda.
Karena, kali ini, aku berjuang untuk diriku sendiri.
Aku berjuang untuk hal-hal yang lebih penting dari orang-orang yang mengkerdilkan aku.
Aku berjuang untuk hal-hal yang bermanfaat untuk diriku.
Untuk mimpiku. Untuk masa depanku. Untuk cintaku terhadap diriku. Untuk kesehatanku.
Dan, untuk Tuhan yang telah menciptakan aku,
yang tidak akan pernah mengkerdilkan
usahaku.
Aku nggak bisa bohong, aku masih wondering… bagaimana rasanya menjadi opsi pertama dalam kehidupan seseorang?
Tapi, aku sudah jadi opsi pertama dalam kehidupanku sendiri.
Why do I always want more when I should be enough for myself?