1. Saat Usiamu 25 Nanti

Dan, ceritamu seakan berakhir di usia 25 tahun.

Teman-temanmu; mereka telah menemukan tempat di dunia ini.

Bekerja di perusahaan yang beken. Melanjutkan studi di luar negeri. Membangun sebuah startup yang sukses di kemudian hari. Menikahi seseorang yang dicintai. Memutuskan mengelilingi dunia dan menjadi pekerja lepas penuh kebebasan. Dan, berbagai pencapaian duniawi yang sedap dipandang.

Dan, kamu… duduk di kamarmu, memandang itu semua dari Instagram, berangan-angan,

“Kapan, ya, hidupku kayak mereka?”

***

Saat kamu masih kecil, orang-orang sering bertanya, “Kamu mau jadi apa?”

“Dokter,” jawabmu antusias.

Lalu, kamu beranjak dewasa, pertanyaan berevolusi, “Mau lanjut di mana?”

Jawabanmu tak berubah. “Kedokteran.”

Namun, itu adalah satu-satunya jawaban tersisa yang kau miliki. Sisa mimpi di masa kecilmu. Padahal Biologi tak pernah jadi pelajaran favoritmu. Padahal nilai-nilai di rapormu telah memberi tanda bahwa kamu perlu mempertimbangkan kesempatan lain. Padahal belajar di sekolah saja kamu sudah merasa begitu bosan, ingin cepat-cepat lulus, kontradiksi dengan keinginanmu untuk lanjut ke Fakultas Kedokteran, yang akan menghabiskan bertahun-tahun lebih lama dari mahasiswa umumnya.

Tetapi, kamu tetap bersiteguh, “Aku pilih Kedokteran.”

Karena, sesungguhnya, kamu tak punya pilihan lagi.

Kamu cuma ingin sukses.

Dan, kata orang-orang, kalau kamu mau sukses, jadilah dokter. Enak, kan, nanti bisa buka praktik sendiri, kerjaan terjamin, bla, bla bla.

Jadi, kamu mengikuti standar sosial: jadi dokter supaya sukses.

Sayangnya, seperti sebuah cerita sedih, kamu tidak diterima di Fakultas Kedokteran.

Persaingan yang sengit, soal yang tanpa disangka-sangka amat sulit, nilai yang standar.

Lupakan soal frustrasi dan kebuntuan setelahnya. Kita geser ke tahun-tahun berikutnya. Saat kamu sudah mengubur mimpi yang tak pernah benar-benar jadi mimpi. Momen setelah kamu lulus kuliah nanti. Sekitar 21 atau 22 tahun.

Di usia-usia ini, mimpimu berubah. Ingin jadi pengusaha.

Karyawan? Apaan. Nggak enak jadi bawahan. Disuruh-suruh terus. Mending jadi pengusaha. Lihat, Steve Jobs, Bill Gates, Jack Ma, Jeff Bezos, dan orang-orang sukses lainnya. Mereka bukan karyawan. Mereka adalah pengusaha. Dan, mereka sukses besar-besaran. Menjadi orang berpengaruh di dunia. Memberi kontribusi besar bagi dunia. Dan, umm, setidaknya, kaya.

 

Begitu pikirmu. Jadi, kamu meniti jalan mereka. Mencoba menjadi pengusaha. Kecil-kecilan dulu.

But boy was I wrong,” gumammu saat menapaki langkah pertama di dunia usaha. Memasuki dunia usaha seperti berjalan di dalam hutan belantara di tengah gelapnya malam serta derasnya hujan. Terjerembap, jatuh ke lubang yang sama, terperangkap begitu lama, sampai jenuh dan berkarat. Usaha berjam-jam, penghasilan nol-nol.

Jadi, kamu mundur dari pertarungan ini. Kembali menjadi karyawan. Tidak mencintai apa yang kamu lakukan. Bukan ini yang aku mau, bukan ini yang aku mau, rapalmu setiap pagi di kantor.

Dan, di kepalamu, bermain-mainlah berbagai suara:

Kalau mau sukses, jadilah dokter.

Kalau mau sukses, jadilah pengusaha.

Kalau mau sukses, jadilah CEO muda di sebuah startup yang sedang melejit.

Kalau mau sukses, jadilah Steve Jobs, Bill Gates, Jack Ma, atau Jeff Bezos berikutnya.

Kalau mau sukses, jadilah kaya raya, keliling dunia, dan buktikan kehidupan suksesmu itu di Instagram dengan dalih supaya-orang-lain-termotivasi.

Sedihnya, kamu begitu jauh dari standar ini. Standar yang diciptakan oleh society dan media. Yang, sayangnya, kamu terjebak di dalamnya.

Di paragraf ini, berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Lepaskan pelan-pelan. Lalu, keluarlah dari ruanganmu. Bawa buku ini bersamamu. I want you to be somewhere.

Berdiri di bibir pantai, membiarkan ombak menyelimuti jemari kakimu.

Duduk di sebuah perahu, di tengah danau, sendiri saja.

Melangkah di antara pematang sawah sambil menghirup udara segar pedesaan.

Atau, sesederhana berbaring di atap rumahmu. Tataplah langit biru dan arakan awan itu. Lihat bagaimana awan-awan itu terbentuk. Seperti begitu acak, berantakan, tak simetris, tak selalu berpola. Tetapi, perhatikanlah, ia tak butuh simetris dan teratur untuk terlihat indah. Ia tak butuh standar tertentu untuk tetap indah. Awan tetap menjadi awan. Dengan bentuknya yang berantakan dan tak simetris, ia malah tampak seperti istana kapas. Indah dan menakjubkan. Tanpa. Butuh. Standar.

Dan, kita, seharusnya tak butuh standar tertentu untuk sukses.

Bodo amatlah pada standar-standar sukses itu.

Jauh sebelum kesuksesannya, Bill Gates mempelajari bahasa pemrograman saat teknologi belum semasif ini. Lalu, dia mendirikan Microsoft di tahun 1975. Kuulangi lagi, 1975, teknologi belum semasif ini, apakah itu tampak seperti pekerjaan yang menjanjikan? Faktanya lagi, komputer belum menjadi hal yang lumrah. Apakah dia mengikuti standar kesuksesan yang diciptakan masyarakat dan media pada masa itu?

Jeff Bezos memulai Amazon saat internet belum merajalela seperti hari ini. Parahnya lagi, pada masa itu, jangankan internet, komputer masih belum umum. Apakah ini sesuatu yang menjanjikan? Apakah dia mengikuti standar kesuksesan yang diciptakan masyarakat dan media pada masa itu?

Berbeda lagi dengan J.K. Rowling. Dia tidak perlu mengikuti jejak Bill Gates atau Jack Ma. Lupakan menjadi pengusaha, lupakan teknologi. Sebab dia amat jauh dari itu. Dia hanya seorang penulis dengan iringan kegagalan di awal karirnya. Bukan pengusaha. Bukan CEO muda. Hanya penulis. Tetapi tetap sukses. Menjadi salah satu orang terkaya di United Kingdom. Masuk di dalam daftar orang-orang berpengaruh di dunia. Sampai hari ini, menjadi penulis tak pernah benar-benar menjanjikan. Apakah dia mengikuti standar kesuksesan yang diciptakan masyarakat dan media?

Nama-nama yang kusebut di atas contoh-contoh sederhana, bukan patokan kesuksesan.

Sebab kesuksesan tak berakhir di situ. Ada hidup yang terus berlanjut.

Karena kita tahu nama-nama orang sukses yang tak bahagia dalam hidupnya.

Lalu, beberapa di antara mereka memutuskan mengakhiri hidupnya lewat obat-obatan terlarang, menyakiti diri sendiri, dan hal-hal semacamnya.

Jadi, sebenarnya, apa kesuksesan itu?

Dan, kita pun tahu nama-nama orang sukses di masa lalu yang telah tiada. Steve Jobs, Stephen Hawking, Adolf Dassler, dan berbagai nama lain. Memang, kontribusi mereka masih mengalir sampai hari ini.

Namun, sebenarnya apa kesuksesan itu jika, pada akhirnya, kita semua mati?

Tidakkah itu tampak sia-sia? Bukankah ini pertanda bahwa ada sesuatu yang lebih penting di dunia ini dari sekadar kesuksesan?

Maka, tetaplah menggenggam buku ini. Ia akan menarikmu ke berbagai realitas kehidupan. Yang mudah-mudahan, nanti, saat kamu sukses atau gagal, kamu tak akan lagi terkecoh dengan kesuksesan yang melenakan atau kesedihan yang beruntun.

Dan, oh, menjawab pertanyaanmu tadi:

Iya, ya. Pasti ada yang lebih penting dari kesuksesan. Tapi apa?

[]
Selanjutnya
error: Not Allowed